ASUHAN
KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR NORMAL PADA BY.NY”H”
DI
RUANG NEONATUS RSUD PALEMBANG BARI

DISUSUN
OLEH :
KELOMPOK
II
1.
HERIYANTI 135.009.025
2.
ISMAWATI 135.009.026
3.
LENI
MITA SUSANTI 135.009.027
AKADEMI KEBIDANAN PONDOK PESANTREN
ASSANADIYAH PALEMBANG TAHUN
AKADEMI 2011 – 2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Riset
terbaru WHO pada tahun 2005 menyebutkan bahwa 42 % menyebabkan kematian balita
di didunia adalah akibat penyakit, yang besar adalah pneumonia 20 %, selebihnya
58 % terkait dengan mal nutrisi yang sering kali terkait dengan asupan ASI
(Suswono,2006).
Angka Kematian bayi yang berusia 0-1 tahun di Indonesia masih
terbilang tinggi dibandingkan dengan negara- negara lain, dan sekitar 50 % nya
yang meninggal sebelum usia 1 bulan (Agustinayanto, 2008).
Tiga
penyebab bayi meninggal adalah akibat berat badan rendah sebesar 29 % ,
mengalami ganguan pernapasan sebesar 27 % dan masalah nutrisi sebesar 10 % ,
ujar dr. Badriul heger,Sp.A dalam acara talk show, di balik kematian bayi dan balita
dalam rangka hari kesehatan nasional 2009 di JCC, Jakarta, jum’at 04/12/2009 (Agustinayanto,
2008).
Berdasarkan Visi dan Misi Indonesia sehat 2010 yang telah
direncanakan ole Pemerintah RI (1999) dan Keluarga Sejahtera 2013 oleh Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), maka bidan yang bergabung dalam
Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di seluruh Indonesia merasa terpanggil dan
prihatin atas kesehatan kondisis ibu dan anak belum baik, yaitu Angka Kematian
Ibu (AKI) sebesar 373 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB)
sebesar 50 per 100.000 kelahiran hidup. Penurunan yang dirasakan sangat lambat,
oleh karena itu AKI dan AKB di Indonesia masih menjadi alasan kesehatan
masyarakat (IBI, 2003).
Angka Kematian Bayi (AKB) disumatera selatan tahun 2009
adalah 2 per 1000 kelahiran hidup. Penyebabnya adalah BBLR, premature, gangguan
pernafasan, hipoglikemi dan cacat bawaan. (dinas kesehatan 2010).
Data
yang kami peroleh dari Rekam Medik RSUD Palembang BARI, jumlah kelahiran selama
tahun 2010 adalah 1.849 kelahiran hidup,sedangkan jumlah kelahiran bayi baru
lahir yaitu 19 kematiam bayi.
Berdasarkan data diatas maka, penulis tertarik untuk
membuat makalah yang berjudul Asuhan Kebidanan Pada Bayi Baru Lahir Normal (BBLN)
Pada bayi Ny “H” di ruang neonatus RSUD Palembang BARI
2011.
1.2
Tujuan
1.2.1
Tujuan
Umum
Agar mahasiswa dapat
melaksanakan “Asuhan Kebidanan Pada
Bayi
Baru Lahir Normal
bayi
Ny “H” di
ruang neonatus RSUD Palembang BARI 2011.
1.2.2
Tujuan
Khusus
1. Melakukan
pengumpulan data dan pengkajian data Bayi Baru Lahir Normal bayi Ny “H” di ruang neonatus RSUD Palembang BARI.
2. Menginterprestasikan
data dasar Bayi Baru Lahir Normal
bayi Ny “H” di
ruang neonatus RSUD Palembang BARI.
3. Mengidentifikasikan
masalah dan diagnosa potensial Bayi Baru Lahir Normal bayi Ny “H” di ruang neonatus RSUD Palembang BARI.
4. Menetapkan kebutuhan terhadap masalah Bayi
Baru Lahir Normal
bayi Ny “H” di
ruang neonatus RSUD Palembang BARI.
5. Menetapkan
rencana asuhan yang dibutuhkan Bayi Baru Lahir Normal bayi Ny “H” di ruang neonatus RSUD Palembang BARI.
6. Mengimplementasikan
Asuhan Kebidanan yang telah direncanakan Bayi Baru Lahir Normal bayi Ny “H” di ruang neonatus RSUD Palembang BARI.
7. Mengevaluasi
rencana asuhan yang telah diberikan Bayi Baru Lahir Normal bayi Ny “H” di ruang neonatus RSUD Palembang BARI.
1.3
Waktu
Pengumpulan pengkajian kasus pada
tanggal 09 Januari 2012 pada pukul 13.00 Wib.
1.4
Tempat
Pengumpulan dan Pengkajian kasus di ruang
Neonatus RSUD Palembang BARI.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Profil RSUD Palembang BARI
2.1.1
Selayang Pandang
Rumah
Sakit Umum daerah Palembang BARI merupakan unsur penunjang pemerintah daerah di
bidang pelayanan kesehatan yang merupakan satu-satunya Rumah Sakit Umum milik
Pemerintah Kota Palembang. Rumah Sakit Umum Palembang BARI terletak di
jalan Panca Usaha No 1 Kelurahan 5 Ulu
daerah Kecamatan Seberang Ulu, dan berdiri di atas tanah seluas 4,5 H.
Bangunan
berada lebih kurang 800 meter dari jalan raya jurusan Kertapati. Sejak tahun
2001 dibuat jalan alternatif dari jalan jaka baring menuju RSUD Palembang BARI.
Saat ini sedang di upayakan pembangunan jalan langsung menuju RSUD Palembang
BARI dari jalan poros jakabaring.
2.1.2
Visi dan Misi RSUD Palembang BARI
Visi
Rumah
Sakit Andalan dan terpercaya di Sumatra Selatan
Misi
1. Melaksanakan
pelayanan kesehatan bermutu
2. Melaksanakan
manajemen adaministrasi yang efektif dan efisien
Moto
RSUD Palembang BARI
“Anda sembuh,
kami puas”
Anda
puas kami bahagia……!
2.1.3 Sejarah
1. Sejarah berdirinya RSUD Palembang BARI
Ø Pada tahun 1985 sampai dengan 1994 RSUD Palembang BARI merupakan
gedung poliklinik/ Puskesmas Panca Usaha.
Ø Pada tanggal 19 juni 1995 diresmikan menjadi RSUD
Palembang BARI dengan SK Depkes nomor 1326/menkes/SK/ XI/ 1997, tanggal 10
november 1997 di tetapkan menjadi Rumah
Sakit Umum Daerah kelas C.
Ø Kepmenkes RI Nomor: HK.00.06.2.2.4646 tentang
pemberian status Akreditas penuh tingkat lanjut kepada Rumah Sakit Umum Daerah
Palembang BARI, tanggal 7 Nopember 2003.
Ø Kepmenkes RI Nomor : YM.01.10/III/334/08 tentang pemberian status Akreditas penuh
tingkat lanjut kepada Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI, tanggal 5
Februari 2008
Ø Kepmenkes RI Nomor : 241/MENKES/SK/IV/ 2009 tentang peningkatan kelas Rumah Sakit
Umum Daerah Palembang BARI menjadi kelas B, tanggal 2 April 2009.
Ø Ditetapkan sebagai BLUD-SKPD Palembang BARI
berdasarkan keputusan Walikota Palembang No: 915 B tahun 2008 tentang keputusan
RSUD Palembang BARI sebagai SKPD
Palembang yang menerapkan pola keuangan BLUD (PPK – BLUD) secarah penuh.
2.
Sejarah
Pemegang Jabatan Direktur
1.
Tahun
1986 s.d 1995 : dr. jane Lidya Titahelu sebagai kepala poliklinik/ puskesmas Panca Usaha.
2.
Tanggal
1 Juli 1995 s.d Juni 2000 : dr. Eddy
Zakarty Manasir, SpOG selaku Direktur RSUD Palembang BARI.
3.
Bulan
Juni 2000 s.d November 2000 : Pelaksana
tugas dr. H. Dachlan Abbas,SpB
4.
Bulan
Desember 2000 s.d februari 2001 : Pelaksana tugas dr. M. Faisal Soleh, SpPD
5.
Tanggal
14 November 2001 s.d sekarang : dr. Hj. Indah Puspita, H.A, MARS sebagai
Direktur RSUD Palembang BARI.
2.1.4
Fasilitas dan Pelayanan
a. Fasilitas
1.
Instalasi Gawat Darurat (IGD) 24 jam
2.
Farmasi / Apotik 24 jam
3. Rawat
Jalan / Poliklinik Spesialis
4. Bedah
Sentral
5.
Control Sterilized Suplay Departement (CCSD)
6.
Rehabilitasi Medik
7.
Radiologi
8.
Laboratorium Klinik
9.
Patologi Anatomi
10. Bank
Darah
11.
Hemodialisa
12.
Medical Check Up
13.
ECG/EEG
14. USG
4 Dimensi
15.
Endoscopy:
b. Pelayanan
Rawat Jalan
1.
Poliklinik Spesialis
kebidanan dan Penyakit Kandungan
2.
Poliklinik Spesialis
Penyakit Dalam
3.
Poliklinik
Spesialis Anak
4.
Poliklinik
Spesialis Bedah
5.
Poliklinik
Spesialis Mata
6.
Poliklinik
Spesialis THT
7.
Poliklinik
Spesialis Kulit dan Kelamin
8.
Poliklinik
Spesialis Syaraf
9.
Poliklinik
Spesialis Jiwa
10. Poliklinik Spesialis Patologi Anatomi
11. Poliklinik Spesialis Anasresi
12. Poliklinik Spesialis Patologi Klinik
13. Poliklinik Spesialis Radiologi
14. Poliklinik Sub Spesialis Penyakit Jantung
15. Poliklinik Sub Spesialis Bedah Orthopaedi
16. Poliklinik Sub Spesialis Bedah syaraf
17. Poliklinik Sub Spesialis Bedah Urologi
18. Poliklinik Sub Spesialis Bedah Digestif
19. Poliklinik Akupuntur
20. Poliklinik Psikologi
21. Poliklinik Gigi
22. Poliklinik Umum
c. Instalasi
Rawat Darurat
1.
Dokter
Jaga 24 jam
2.
Ambulance
24 jam
d. Pelayanan
Rawat Inap
1.
Rawat Inap Kebidanan
dan penyakit kandungan
2.
Rawat
Inap Neonatus dan NICU
3.
Rawat
Inap Penyakit Anak
4.
Rawat Inap
Bedah
5.
Rawat Inap
Laki-Laki
6.
Rawat Inap
Perempuan
7.
Rawat Inap Non
Infeksi
8.
Rawat
Inap VIP dan VVIP
9.
Rawat
Inap Penyakit Dalam
10. ICU
e. Pelayanan
Penunjang
1.
Instalasi
Laboratorium Klinik
2.
Instalasi
Radiologi
3.
Instalasi
Bedah Sentral
4.
Instalasi
Farmasi (Apotek)
5.
Instalasi
Gizi
6.
Instalasi
Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit
7.
Instalasi
Pemeliharaan Lingkungan
8.
Centarl
Sterlizer Suplay Departement (CCSD)
9.
Bank
Darah
10. Instalasi
Laundry
11. Kasir
f. Hemodialisa
g. Instalasi
Rehabilitasi Medik.
2.2 Tinjauan Teori
2.2.1
Definisi Bayi Baru Lahir
Bayi
baru lahir adalah bayi yang baru lahir selama satu jam pertama kelahiran ( Saifuddin,2002
).
Bayi baru lahir adalah bayi dari lahir
sampai usia 4 minggu. Lahirnya biasanya dengan usia gestasi 38 – 42 minggu ( Danna, 2003). Bayi
baru lahir adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram (
Depkes.RI, 2005).
Bayi
baru lahir normal adalah berat badan lahir antara 2500 – 4000 gram, cukup
bulan, lahir lasung menangis, dan tidak ada kelaian kongenital ( cacat bawaan )
yang berat (Sholeh, 2007 ).
2.2.2 Ciri – ciri Bayi Baru Lahir
Menurut Eka, ( 2009 ). Ciri – ciri bayi
baru lahir normal
yaitu :
1.
Berat badan 2500 – 4000 gram
2.
Panjang badan 48 - 52 cm
3.
Lingkar dada 30 -38 cm
4.
Lingkar kepala 33 – 35 cm
5.
Frekuensi jantung 120 – 160 kali/menit
6.
Pernapasan ± 40 kali/ menit
7.
Kulit kemerah – merahan dan licin karena
jaringan sub kutan cukup
8.
Rambut lanugo tidak terlihat, rambut
kepala biasanya telah sempurna
9.
Kuku agak panjang dan lemas
10. Genitalia,
perempuan labia mayora sudah menurut labih minora dan laki
– laki testis sudah turun, skrotum sudah ada.
11. Reflek
morrow atau gerakan memeluk bila di kagetkan sudah baik
12. Reflek
graps atau menggenggam sudah baik
13. Eliminasi
baik, mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama, mekonium berwarna hitam kecoklatan
2.2.3 Manajemen Bayi Baru Lahir Normal
Menurut
JNPK-KR/POGI,APN,(2008). Manajemen bayi baru lahir normal yaitu :
|
PENILAIAN
1. Bayi
cukup bulan
2.
Air ketuban jernih,tidak
bercampur mekonium
3.
Bayi menangis atau bernapas
4.
Tonus otot bayi baik
|
|
Asuhan Bayi Baru Lahir
|
|
1. Jaga
kehangatan
2. Bersihkan
jalan nafas bila perlu
3. Keringkan
dan tetap jaga kehangatan
4. Potong
dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapun,kira-kira 2 menit setelah bayi
lahir
5. Lakukan
inisiasi menyusui dini (IMD )
6. Beri
salep
mata antibiotika tetrasiklin 1 % pada kedua mata
7. Beri suntikan vitamin K 1 mg
intramuskuler , dipaha kiri anterolateral, setelah IMD
8. Beri
imunisasi hepatitis B 0,5 ml intramuskuler, dipaha kanan anterolateral,diberi
kira – kira 1 – 2 jam setelah pemberian vitamin K.
|
2.2.4 Adaptasi Bayi Baru Lahir
Segera setelah lahir, BBL harus
beradaptasi dari keadaan yang sangat tergantung menjadi mandiri secara
fisiologis. Banyak perubahan yang akan dialami oleh bayi yang semula berada
dalam lingkungan interna (dalam kandungan ibu ) yang hangat dan segala
kebutuhannya terpenuhi (O2 dan Nutrisi) ke lingkungan eksterna (diluar
kandungan ibu) yang dingin dan segala kebutuhannya memerlukan bantuan organ
lain untuk memenuhinya. Saat ini bayi tersebut harus dapat oksigen melalui
system sirkulasi pernapasannya sendiri yang baru, mendapatkan nutrisi oral untuk mempertahankan kadar
gula yang cukup, mengatur suhu tubuh dan melawan setiap penyakit ( Lia,2009 ).
Periode adaptasi terhadap kehidupan di
luar rahim disebut periode Transisi. Periode ini berlansung hingga 1 bulan atau
lebih setelah kelahiran untuk beberapa system tubuh. Transisi yang paling nyata
dan cepat terjadi adalah pada system pernapasan dan sirkulasi, system
termoregulasi, dan dalam kemampuan mengambil serta menggunakan glukosa ( Lia,
2009 ).
Menurut
Lia ( 2009 ), Adaptasi bayi baru lahir meliputi perubahan – perubahan sebagai
berikut :
1. Perubahan Sistem Pernapasan
a. Dua
faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi :
·
Hipoksia pada akhir persalinan
·
Rangsangan fisik lingkungan luar rahim
yang merangsang pusat pernapasan di otak .
b.
Tekanan terhadap rongga dada yang
terjadi karena komprensi paru – paru selama persalinan yang merangsang masuknya
udara kedalam paru - paru secara mekanis ( Varney, 2008 ). Interaksi antara system
pernapasan, kardiovaskuler dan susunan syaraf pusat menimbulkan pernapasan yang
teratur dan berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk kehidupan.
c.
Upaya pernafasan pertama seorang bayi
berfungsi untuk :
·
Mengeluarkan cairan dalam paru – paru
·
Mengembangkan jaringan alveolus dalam
paru – paru untuk pertama kali .
2. Perubahan Dalam Sistem Peredaran
Darah
Setelah
lahir darah bayi harus melewati paru untuk mengambil O2 dan mengantarkannya ke
jaringan. Untuk membuat sirkulasi yang baik guna mendukung kehidupan luar rahim
harus terjadi 2 perubahan besar :
a.
Penutupan foramen ovalen pada atrium
jantung
b.
Penutupan ductus arteriosus antara
arteri paru- paru dan aorto.
Oksigen menyebabkan
system pembuluh darah mengubah tekanan dengan cara mengurangi dan meningkatkan
resistensinya sehingga mengubah aliran darah.
1. Pada
saat tali pusat di potong, tekanan atrium kanan menurun
Karena berkurangannya aliran darah ke
atrium kanan. Kedua hal ini membantu
darah dengan kandungan O2 sedikit mengalir ke paru - paru untuk oksigenasi
ulang.
2. Pernafasan
pertama menurunkan resistensipembulu darah paru – paru dalam meningkatkan
tekanan atrium kanan. O2 pada pernapasan pertama menimbulkan relaksasi dan
terbukanya system pembuluh darah paru – paru.
Peningkatan sirkulasi ke paru-paru menggakibatkan peningkatan
volume darah dan tekanan pada atrium kanan. Dengan peningkatan tekanan atrium
kanan dan penurunan tekanan atrium kiri, foramen ovale secara fungsional akan
menutup.
Dengan
pernafasan, kadar O2 daam darah akan meningkat,mengakibatkan ductus arteriosus
berkontraksi dan menutup. Vena umbilicus, ductus venosus dan arteri
hipogastrika dari tali pusat menutup dalam beberapa menit setelah lahir dan
setelah tali pusat diklem. Penutupan anatomi jaringan fibosa berlangsung 2 – 3
bulan.
3. Sistem Pengaturan Suhu, Metabolisme Glukosa,
Gastrointestinal dan Kekebalan Tubuh
1.
Pengaturan Suhu
Suhu dingin lingkungan luar
menyebabkan air ketuban menguap melalui kulit sehingga mendinginkan darah bayi.
Pembentukan suhu tanpa mengigil merupakan usaha utama seorang bayi yang
kedinginan untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya melalui penggunaan lemak
coklat untuk produksi panas. Lemak coklat tidak diproduksi ulang oleh bayi dan
akan habis dalam waktu singkat dengan adanya stress dingin.
2.
Metabolisme Glukosa
Untuk memfungsikan otak
memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Pada BBL, glukosa darah akan turun
dalam waktu cepat ( 1-2 jam ). BBL yang tidak dapat mencerna makanan dalam
jumlah yang cukup akan membuat glukosa dari glikogen dalam hal ini terjadi bila
bayi mempunyai persediaan glukogen cukup yang disimpang dalam hati.
3. Perubahan
Sistem Gastrointestinal
Reflek
gumoh dan reflek batuh yang matang sudah terbentuk pada saat lahir. Sedangkan
sebelum lahir bayi sudah mulai menghisap dan menelan. Kemampuan menelan dan
mencerna makanan (selain susu) terbatas pada bayi. Hubungan antara esofagus
bawah dan lambung masih belum sempurna yang berakibat gumoh. Kapasitas lambung
juga terbatas, kurang dari 30 cc dan bertambah secara lambat sesuai pertumbuhan
janin.
4. Perubahan
Sistem Kekebalan Tubuh
Sistem imunitas BBL belum matang sehingga
rentan terhadap infeksi.
Kekebalan
alami yang dimiliki bayi diantaranya :
1.
Perlindungan oleh kulit membrane mukosa.
2.
Fungsi jaringan saluran nafas
3.
Pembentukan koloni mikroba oleh kulit
dan usus
4.
Perlindungan kimia oleh lingkungan asam
lambung. Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel oleh sel darah yang
membantu membunuh organism asing.
2.2.5. Penanganan Segera Bayi Baru Lahir
Menurut
JNPK-KR/POGI,APN ( 2008 ) asuhan segera, aman dan bersih untuk bayi baru lahir
ialah :
1.
Pencegahan
Infeksi
a. Cuci
tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi
b. Pakai
sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan
c. Pastikan
semua peralatan dan bahan yang digunakan,terutama klem,gunting,penghisap lendir
Delee dan benang tali pusat telah didesinfeksi tingkat tinggi atau steril.
d. Pastikan
semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang di gunakan untuk bayi, sudah dalam
keadaan bersih. Demikian pula dengan timbangan, pita pengukur, thermometer,
stetoskop.
2. Pencegahan Kehilangan Panas
Mekanisme
kehilangan panas
a.
Evaporasi
; penguapan
cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri karena
setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan.
b.
Konduksi
; Kehilangan
panas tubuh melalui kontak lansung antara tubuh bayi dengan permukaan yang
dingin, co/meja, tempat tidur, timbangan yang termperaturnya lebih randah dari
tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi bila bayi diletakkan di atas benda –
benda tersebut.
c.
Konveksi
;
Kehilangan panas tubuh terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih
dingin, adanya aliran udara dari kipas angin, hembusan udarah melalui
ventilasi, atau pendingin ruangan.
d.
Radiasi
;
Kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan didekat benda – benda
yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari suhu tubuh bayi, karena benda –
benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi ( walaupun tidak bersentuhan
secara langsung )
Mencegah kehilangan panas
Mecegah
kehilangan panas melalui upaya berikut :
a.
Keringkan bayi secara seksama:
Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan rangsangan taktil
untuk membantu bayi memulai pernapasannya.
b.
Selimuti bayi dengan selimut atau kain
bersih dan hangat : Ganti handuk atau kain yang telah basah olah cairan ketuban
dengan selimut atau kain yang baru ( hangat, bersih, dan kering)
c.
Selimuti bagian kepala bayi : bagian
kepala bayi memiliki luas permukaan yang relative luas dan bayi akan dengan
cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
d.
Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui
bayinya: pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan
mencegah kehilangan panas. Sebaiknya pemberian ASI harus dimulai dalam waktu
satu (1) jam pertama kelahiran.
e.
Jangan segera menimbang atau menandikan
bayi baru lahir: karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas
tubuhnya, sebelum melakukan penimbangan, terlebih dahulu selimuti bayi dengan
kain atau selimut bersih dan kering. Berat badan bayi dapat dinilai dari
selisih berat bayi pada saat berpakaian/diselimuti dikurangi dengan berat
pakaian/selimut. Bayi sebaiknya dimandikan sedikitnya enam jam setelah lahir.
f.
Tempatkan bayi dilingkungan yang hangat.
g.
Idealnya bayi baru lahir ditempatkan
ditempat tidur yang sama dengan ibunya, untuk menjaga bayi tetap hangat dan
mendorong ibu untuk segera memberikan ASI.
Praktik
memandikan bayi yang dianjurkan adalah :
a. Tunggu
sedikitnya 6 jam setelah lahir sebelum memandikan bayi (lebih lama jika bayi
mengalami asfiksia atau hipotermi).
b. Sebelum
memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh stabil (suhu aksila antara 36,50
C – 370 C). Jika suhu tubuh bayi masih dibawah 36,50
C, selimuti kembali tubuh bayi secara longgar, tutupi bagian kepala dan
tempatkan bersama ibunya di tempat tidur atau lakukan persentuhan kulit
ibu-bayi dan selimuti keduanya. Tunda memandikan bayi hingga bayi tetap stabil
dalam waktu (paling sedikit) 1 jam.
c. Tunda
untuk memandikan bayi yang sedang mengalami masalah pernafasan.
d. Sebelum
bayi dimandikan, pastikan ruangan mandinya hangat dan tidak ada tiupan angin.
Siapkan handuk bersih dan kering untuk mengeringkan tubuh bayi dan siapkan
beberapa lembar kain atau selimut bersih dan kering untuk menyelimuti tubuh
bayi setelah dimandikan.
e. Memandikan
bayi secara tepat dengan air bersih setelah dimandikan.
f. Segera
keringkan bayi dengan menggunakan handuk bersih dan kering.
g. Ganti
handuk yang basah dengan selimut bersih dan kering, kemudian selimuti tubuh
bayi secara longgar. Pastikan bagian kepala bayi diselimuti dengan baik.
h. Bayi
dapat diletakkan bersentuhan kulit dengan ibu dan diselimuti dengan baik. Ibu
dan bayi disatukan di tempat dan dianjurkan ibu untuk menyusui bayinya.
3.
Membebaskan Jalan Nafas
Dengan cara sebagai berikut yaitu bayi
normal akan menangis spontan segera setelah lahir, apabila bayi tidak langsung
menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas dengan cara sebagai berikut
:
a.
Letakkan bayi pada posisi terlentang di
tempat yang keras dan hangat.
b.
Gulung sepotong kain dan letakkan di
bawah bahu sehingga leher bayi lebih lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi
kepala diatur lurus sedikit tengadah ke belakang.
c.
Bersihkan hidung, rongga mulut dan
tenggorokan ai dengan jari tangan yang dibungkus kassa steril.
d.
Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak
2-3 kali atau gosok kulit bayi denagn kain kering dan kasar.
e.
Alat penghisap lendir mulut (De Lee)
atau alat penghisap lainnya yang steril, tabung oksigen dengan selangnya harus
sudah ditempat.
f.
Segera lakukan usaha menghisap mulut dan
hidung.
g.
Memantau dan mencatat usaha bernafas
yang pertama (Apgar Score).
h.
Warna kulit, adanya cairan atau mekonium
dalam hidung atau mulut harus diperhatikan.
4.
Merawat
tali pusat
a. Setelah
plasenta dilahirkan dan kondisi ibu dianggap stabil, ikat atau jepitkan klem
plastik tali pusat pada punting tali pusat.
b. Celupkan
tangan yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5% untuk
memebersihkan darah dan sekresi tubuh lainnya.
c. Bilas
tangan dengan air matang atau desinfektan tingkat tinggi.
d. Keringkan
tangan (bersarung tangan)tersebut dengan handuk atau kain bersih dan kering.
e. Ikat
ujung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat bayi dengan mengunakan
benangdesinfektan ingkat tinggi atau klem plastik tali pusat (desinfektan tingkat
tinggi atau steril). Lakukan simpul kunci atau jepitkan secara mantap klem tali
pusat tertentu.
f. Jika
menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang sekeliling ujung tali pusat
dan dilakukan pengikatan kedua simpul kunci dibagian tali pusat pada sisi yang
berlawanan.
g. Lepaskan
klem penjepit tali pusat dan letakkan di dalam larutan klorin 0,5%.
h. Selimuti
ulang bayi dengan kain bersih dan
kering, pastikan bahwa bagian kepala bayi tertutup dengan baik. (Depkes. RI,
2002).
5.
Mempertahankan
suhu tubuh bayi
Pada waktu lahir, bayi belum mampu
mengatur tetap suhu badannya, dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk
membuatnya tetap hangat. Bayi baru lahir harus dibungkus hangat. Suhu tubuh
bayi merupakan tolak ukur kebutuhan akan tempat tidur yang hangat sampai suhu
tubuhnya sudah stabil. Suhu bayi harus dicatat. (Prawirohardjo, 2002).
Bayi
baru lahir tidak dapat mengatur temperatur tubuhnya secara memadai dan dapat
dengan cepat kedinginan jika kehilangan panas tidak segera dicegah. Bayi yang
mengalami kehilangan panas (hipotermi) beresiko tinggi untuk jatuh sakit atau
meninggal, jika bayi dalam keadaan baah atau tidak diselimuti mungkin akan
mengalami hipoterdak, meskipun berada dalam ruangan yang relative hangat. Bayi
prematur atau berat lahir rendah sangat rentan terhadap terjadinya hipotermia.
Pencegahan terjadinya kehilangan panas yaitu dengan :
1.
Keringkan bayi secara seksama.
2.
Selimut bayi dengan selimutatau kain
bersih, kering dan hangat.
3.
Tutup bagian kepala bayi.
4.
Anjurkan ibu untuk memeluk dan
menyusukan bayinya.
5.
Lakukan penimbangan setelah bayi
mengenakan pakaian.
6.
Tempatkan bayi di lingkungan yang
hangat. (Depkes. RI, 2002)
6.
Pencegahan
infeksi
1.
Memberikan vitamin K
Untuk mencegah
terjadinya perdarahan karena defisiensi vitamin K per oral 1 mg/hari selama 3
hari, dan bayi beresiko tinggi di beri vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 –
1 mg IM.
2.
Memberikan obat tetes atau salep mata
Untuk pencegahan
penyakit mata karena klamadia (penyakit menular seksual) perlu diberikan obat
mata pada jam pertama persalinan, yaitu pemberian obat mata eitromisin 0,5%
atau tetrasiklin 1%, sedangkan salep mata biasanya diberikan 5 jam setelah bayi
lahir. Perawatan mata harus segera dikerjakan, tindakan ini dapat dikerjakan
setelah bayi selesai dengan perawatan tali pusat. Yang lazim dipakai adalah
laruan perak nitrat atau Neosporin dan langsung diteteskan pada mata segera
setelah lahir.
Bayi
baru lahir sangat rentan terhadap infeksi, pastikan untuk melakukan tindakan
pencegahan infeksi berikut ini :
a. Cuci
tangan secara seksama sebelum dan setelah melakukan kontak dengan bayi.
b. Pakai
sarungtanan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan.
c. Pastikan
bahwa semua peralatan, termasuk klem gunting dan benang tali pusat telah
didesinfektan tingkat tinggi ata steril jika menggunakan bola karet penghisap,
pakai yang bersih dan baru.
d. Pastikan
bahwa semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang digunakan untuk bayi telah
dalam keadaan bersih.
e. Pastikan
bahwa timbnagan, pipa pengukur, thermometer, stetoskop dan benda-benda lainnya
yang akan bersentuhan dengan bayi dalam keadaan bersih dekontaminasi dan cuici
setiap setelah digunakan). (Depkes. RI, 2002).
7.
Identifikasi
bayi
Menurut Saifudin Abdul
Bahri (2002), identitas bayi meliputi :
a. Alat
pengenal untuk memudahkan identifikasi bayi perlu dipasang segera pasca
persalinan. Alat pengenal yang efektif harus diberikan kepada bayi setiap bayi
baru lahir dan harus tetap ditempatnya sampai waktu bayi dipulangkan.
b. Peralatan
identifikasi bayi baru lahir harus selalu tersedia di tempat penerimaan pasien,
di kamar bersalin dan di ruang rawat bayi.
c. Alat
yang digunakan, hendaknya kebal air, dengan tepi yang halus tidak mudah
melukai, tia mudah sobek dan tidak mudah lepas.
d. Pada
alat atau gelang identifikasi harus tercantum nama (bayi, nyonya), tanggal
lahir, nomor bayi, jenis kelamin, unit, nama lengkap ibu.
e. Di
setiap tempat tidur harus diberi tanda dengan mencantumkan nama, tanggal lahir,
nomor identifikasi.
2.2.6 Tanda-tanda bahaya bayi baru lahir
Menurut Suryanta (2007), tanda-tanda bahaya
yang harus diwaspadai pada bayi baru
lahir diantaranya :
1.
Tidak mau menyusu anau memuntahkan semua
yang diminum. Dalam hal ini tandanya bayi terkena infeksi berat.
2.
Bayi kejang. Kejang pada bayi baru lahir
kadang sulit dibedakan dengan gerakan normal. Jika melihat gejala atau gerakan
yang tak biasa dan terjadi secara berulang-ulang seperti menguap, mengunyah,
menghisap, mata berkedip-kedip, mata mendelik, bola mata berputar-putar dan kaki mengayuh sepeda yang
tidak berhenti kemungkinan bayi kejang.
3.
Bayi lemah. Bergerak jika hanya
dipegang. Ini tandanya bayi sakit berat.
4.
Sesak nafas 60 kali per menit.
5.
Bayi merintih. Ini tanda bayi sakit
keras.
6.
Pusar kemerahan sampai dinding perut.
Jika kemerahan sudah sampa ke dinding peruttandanya sudah terjadi infeksi berat
7.
Demam. Suhu tubuh bayi ≥ 37,50
C atau tubuh teraba dingin suhunya dibawah 36,50 C.
8.
Mata bayi bernanah banyak. Ini dapa
menyebabkan bayi menjadi buta.
9.
Bayi diare., mata cekung, tidak sadar.
Jika kulit perut dicubit akan kembali lambat. Ini tandanya bayi kekurangan
cairan yang berat bias menyebabkan kematian.
10. Kulit bayi terlihat kuning. Kuning pada
bayi brbahaya jika muncul pada hari pertama atau muncul setelah ≤ 24 jam
setelah lahir. Ditemukan pada umur ≥ 14 hari dan kuning sampai ke telapak
tanganatau kaki.
11. Buang air besar ata kotoran bayi berwarna
pucat segera periksakan bayi ke dokter, bidan atau perawat.
Jika
menemukan satu atau lebih dari tanda bahay dari bayi, usahakan bayi tetap
hangat selama dalam perjalanan ke tempat pemeriksaan. Dengan cara membungkus
bayi dengan kain yang tebal.
2.2.7 Reflek-reflek
fisiologis
Menurut Hila (2009), tanda-tanda bahaya bayi lahir
diantaranya :
1. Mata
a. Berkedip
atau reflek corneal : Bayi berkedip pada pemunculan sinar terang yang tiba-tiba
atau pada pandel atau objek ke arah kornea, harus menetapkan sepanjang hidup,
jika tidak adamaka menunjukkan adanya kerusakan pada saraf cranial.
b. Pupil
: Pupil kontraksi bila sinar terang diarahkan padanya, reflek ini harus
sepanjang hidup.
c. Glabela
: Ketukan harus pada glabela (bagian dahi antara 2 alis mata) menyebabkan mata
menutup dengan rapat.
2. Mulut dan tenggorokan
a. Menghisap
: Bayi harus memulai gerakan menghisap kuat pada area sirkumoral sebagai respon
terhadap rasangan, reflek ini harus tetap ada selama masa bayi, bahkan tanpa
rangsangan sekalipun, seperti pada saat tidur.
b. Muntah
: stimulasi terhadap faring posterior oleh makanan, hisapan atau masuknya
selang harus menyebabkan bayi mengalami reflek muntah, reflek ini harus menetap
sepanjang hidup.
c. Rooting
: Menyentuh dan menekan dagu sepanjang sisi mulut akan menyebabkan bayi
membalikkan kepaka kea rah sisi tersebutdan ulai menghisap, harus hilang pada
usia kira-kira 3-4 bulan.
d. Menguap
: Bila lidah disentuh atau ditekan bayi merespon dengan mendorongnya keluar harus
menghilang pada usia 4 bulan.
e. Batuk
: Iriasi membrane mukosa laring menyebabkan batuk, reflek ini harusetap ada
sepanjang hidup, biasanya ada setelah hari pertama lahir.
3. Ekstrimitas
Macam – macam refleks
pada bayi baru lahir
a. Mengenggam
: Sentuhan pada telapak tangan atau telapa kaki dekat kaki menyebabkan fleksi tangan dan jari.
b. Babinski
: Tekanan di telapak kaki bagian luar kearah atas tumit dan menyilang batalan
kaki menyebabkan jari kaki hiperektesi dan haluks dorso fleksi.
c. Reflek Morrow :
Kejutan atau perubahan tiba-tiba dalam ekuilibrium yang menyebabkan ekstensi
dan abduksi ekstrimitas yang tiba-tiba serta menghisap jari dengan jari
telunjuk dan ibu jari membentuk “C”
diikuti dengan fleksi dan abduksi ekstremitas, kaki dapat fleksi dengan lemah.
d. Startle :
uara keras yang tiba-tiba menyebabkan abduksi lengan dengan fleksi siku tangan
tetap tergenggam.
e. Tonik Leher :
Jika kepala bayi dimiringkan dengan cepat ke salah sisi, lengan dan kakinya
akan berekstensi pada sisi tersebut dan lengan yang berlawanan dan kaki fleksi.
f. Neck – Righting :
Jika bayi terlentang, kepala dipalingkan ke salah satu sisi, bahu dan batang
tubuh membalik kearah tersebut dan diikuti dengan pelvis.
g. Inkurvasi Batang Tubuh (gallant) :
Sentuhan pada punggung bayi sepanjang tulang belakang menyebabkan panggul
bergerak kearah sisi yang terstimulasi.
BAB III
TINJAUAN KASUS
Pengkajian dilakukan pada hari senin
tanggal 09
Januari 2012 pada 12.00 WIB
3.1 Data Subjektif
A. Biodata
Nama
bayi : Bayi Ny. “H”
Umur
bayi : 0 hr
Tgl/Jam
lahir : 09 Januari 2012/ 09.00 WIB
Jenis
kelamin : Laki-laki
BBL
bayi : 3000
gr
PBL
bayi : 48 cm
Identitas orang tua
Nama
Ibu : Ny.”H”
Umur : 35 tahun
Agama : Islam
Suku
bangsa : Sumatera/
Indonesia
Pendidikan : S.1
Pekerjaan : IRT
Alamat : Komplek Sukarame
Nama
Ayah
Umur : Tn. “A”
Agama : 28 tahun
Suku/Bangsa : Sumatera/ Indonesia
Pendidikan : S.1
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Komplek Sukarame
B. Riwayat persalinan
· Ketuban
pecah :
Amniotomi
· Jam :
08.30 wib
· Lamanya : ± 10 jam
· Lamanya : ± 30 menit
· Lamanya : ± 15 menit
· Berat
Plasenta : 500
gr
· Panjang
Tali pusat : 50 cm
3.2
Data Objektif
Pemeriksaan fisik
Kesadaran : Compos Mentis
Keadaan
umum : Baik
RR : 46
x/menit
Nadi : 124 x/ menit
Suhu : 36,6 ºC
Pemeriksaan obstetric
|
TANDA
|
0
|
1
|
2
|
JUMLAH
|
|
Frekuensi
Jantung
|
tidak
ada
|
<
100
|
>
100
|
= 8
= 9
|
|
Usaha
Bernafas
|
tidak
ada
|
Lambat
|
menangis
kuat
|
|
|
Tonus
Otot
|
lumpuh
|
ektremitas
fleksi sedikit
|
gerakan
aktif
|
|
|
Refleks
|
tidak
bereaksi
|
gerakan
sedikit
|
reaksi
melawan
|
|
|
Warna
Kulit
|
biru/
pucat
|
tubuh kemerahan
& kaki biru
|
kemerahan
|
: penilaian 1 menit sesudah lahir lengkap
: penilaian 5 menit sesudah lahir
lengkap
Pemeriksaan
reflek
Antropometri
3.3
Analisa Data
Diagnosa :
Bayi sehat umur 0 hari
Kebutuhan :
· Jaga
kehangatan
· Perawatan
tali pusat
· Rawat
gabung
3.4
Perencanan
ü Menjaga
kehangatan bayi baru lahir
Menjaga
kehangatan bayi baru lahir yaitu dengan meletakkan bayi di bawah heater
Suhu
tubuh bayi normal 36,6 ºC dan tidak terjadi sianosis pada bayi
ü Membersihkan
jalan nafas
Membersihkan jalan
nafas bayi dengan menggunakan slym zoiger dan melakukan rangsangan taktil
Jalan nafas bayi telah
dibersihkan
ü Melakukan
perawatan tali pusat
Melakukan perawatan
tali pusat pada bayi baru lahir, yaitu tali pusat yang telah diikat dengan cord
klem dibalut dengan kasa streril yang telah diberi bethadine, mengganti kassa
setiap basah dan kotor
Tali pusat telah
dibalut dan tidak terjadi infeksi tali pusat bayi
ü Menyuntikan
vitamin K pada bayi
Menyuntikann Vit K pada
bayi dengan cara menginjeksi secara intramuskuler di ⅓ paha kiri bayi
Penyuntikan Vit K telah
dilakukan
ü Memberikan
Zalf mata pada bayi
Memberikan zalf mata
chloramphenicol 1 % pada kedua mata bayi
Pemberian zalf mata
telah dilakukan
ü Mengidentifikasi
bayi
Mengidentifikasi bayi
dengan pemberian papan nama dan gelang nama berwarna pink
Pemberian papan nama dan
gelang nama telah dilakukan
Asuhan Kebidanan Bayi
Baru Lahir Pada Bayi Ny.”H” hari Ke 2 S/D hari Ke 4
Pengkajian dilakukan ada tanggal 10 Januari 2012
pada pukul 10.00 WIB.
ü Subjektif : Repleks hisap kuat
Frekuensi 12x/hari
ü Objektif : - KU :
baik
- Temp :37,1ºC
- Nadi :126x/menit
- RR : 46 x/ menit
- BAK : 6x/hari
- BAB
: 2x/hari
ü Anamnesis : Diagnosa :
Bayi sehat umur I hari
Kebutuhan :
- hygiene sanitasi
-
Perawatan tali pusat
-
Pemberian ASI
-
Pemeriksaan Vital sign
-
Rawat gabung
-
KIE ASI on demand
-
KIE
tentang perawatan bayi baru lahir
ü Perencanaan
ü Memandikan
bayi
Memandikan bayi pada waktu pagi hari dengan
menggunakan air hangat
Bayi sudah dimandikan
ü Perawatan
tali pusat
Melakukan perawatan tali pusat dengan
menggunakan kassa streril yang telah diberi bethadine .
Tali pusat telah dibalut dan tidak terjadi infeksi
tali pusat bayi
ü Pemeriksaan
Vital Sign
Melakukan pemeriksaan Vital Sign pada bayi,
RR 46x/menit, polse 126x/menit, suhu 37,1ºC
Vital Sign telah dilakukan
ü Rawat
gabung Lakukan rawat gabung Ibu dan bayinya
Melakukan rawat gabung pada ibu dan bayinya,
yaitu pada tanggal
Rawat gabung telah dilakukan pada pukul 07.00
WIB
ü Pemberian
ASI
Memberikan ASI pada bayi apabila bayi
mengiginkan
Bayi telah diberikan ASI
ü KIE
tentang ASI On Demand
Memberikan KIE pada ibu tentang pentingnya
ASI sekehendaknya untuk tumbuh kembang bayi
Ibu mngerti dengan penjelasan bidan tentang
ASI On Demand
ü Menjelaskan
pada Ibu tentang keadaan bayi baru lahir
Menjelaskan pada ibu bahwa keadaan bayi
baru lahir yang dilahirkan dalam keadaan sehat dan normal.
Ibu mengerti dengan penjelasan bidan
tentang keadaan bayinya dan merasa tenang
Pengkajian dilakukan pada
tanggal 11 Januari 2012 pukul 10.00 WIB.
ü Subjektif : repleks hisap kuat
ü Objektif : - KU :
baik
- Temp :36,6ºC
- Nadi :128x/menit
- RR : 44 x/ menit
ü Anamnesis : Diagnosa :
bayi sehat umur 2 hari
Kebutuhan :
- Kebersihan
-
Perawatan tali pusat
-
ASI
-
Vital sign
-
KIE ASI On Demand
ü Perencanaan
ü Memandikan
bayi
Memandikan bayi pada
waktu pagi hari dengan menggunakan air hangat
Bayi sudah dimandikan
ü Perawatan
tali pusat
Melakukan perawatan
tali pusat dengan menggunakan kasa streril yang telah diberi bethadine .
Tali pusat telah
dibalut dan tidak terjadi infeksi tali pusat bayi
ü ASI
Memberi ASI pada bayi
apabila bayi mengiginkan
Bayi telah diberi ASI
ü Vital
Sign
Melakukan Vital Sign
pada bayi, RR 44x/menit, polse 128x/menit, suhu 36,76ºC
Vital Sign telah
dilakukan
ü KIE
tentang ASI On Demand
Memberikan KIE pada ibu
tentang pentingnya ASI Esklusif pada bayi yang berperan penting untuk proses
tumbuh kembang bayi
Ibu mengerti dengan penjelasan
bidan tentang ASI On Demand
Pengkajian dilakukan pada
tanggal 12 Januari 2012 pukul 11.00 WIB.
ü Subjektif : Ibu mengatakan berat badan bayinya
meningkat
ü Objektif : - KU :
Baik
- Temp :36,8ºC
- Nadi :126x/menit
- RR : 46 x/ menit
ü Anamnesis : Diagnosa :
Bayi sehat umur 3 hari
Kebutuhan :
- Memandikan bayi
-
Perawatan tali pusat
-
ASI
-
Vital Sign
-
KIE ASI On Demand
-
KIE tentang perawatan Bayi di rumah
-
KIE
tentang Imunisasi pada bayi
ü Perencanaan
ü Memandikan
bayi
Memandikan bayi pada
waktu pagi hari dengan menggunakan air hangat
Bayi sudah dimandikan
ü Perawatan
tali pusat
Melakukan perawatan
tali pusat dengan menggunakan kassa streril yang telah diberi bethadine .
Tali pusat telah
dibalut dan tidak terjadi infeksi tali pusat bayi
ü ASI
Memberi ASI pada bayi
apabila bayi mengiginkan
Bayi telah diberi ASI
ü Vital
Sign
Melakukan Vital Sign
pada bayi, RR 46x/menit, polse 126x/menit, suhu 36,8ºC
Vital Sign telah
dilakukan
ü KIE
tentang ASI On Demand
Memberikan KIE pada ibu
tentang pentingnya ASI Esklusif pada bayi yang berperan penting untuk proses
tumbuh kembang bayi
Ibu
mengerti dengan penjelasan bidan tentang ASI On Demand
ü KIE
tentang perawatan bayi di rumah
Menjelaskan pada ibu
tentang perawatan bayi di rumah dan kunjungan ulang karena pada tanggal 28 Juni
2011 Ibu dan bayi akan pulang.
Ibu mengerti dengan apa
yang dijelaskan bidan.
ü KIE
Imunisasi bayi
Menjelaskan pada ibu
tentang imunisasi pada bayi sesegera mungkin setelah bayi pulang
Ibu mengerti dengan apa
yang dijelaskan bidan
BAB IV
PEMBAHASAN
Bayi
baru lahir adalah bayi yang baru lahir selama satu jam pertama kelahiran (
saudin, 2002 ). Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur
kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai
4000 gram ( Depkes RI, 2002 ).
Menurut JNPK-KR DEPKES RI tahun 2008.
Asuhan Kebidanan yang dilakukan pada bayi baru lahir meliputi.
1. Menjaga
kehangatan dengan handuk / kain yang kering
2. Membersikan
jalan nafas
3. Mengeringkan
dan tetap menjaga kehangatan bayi
4. Memotong
dan mengikat tali pusat tanpa membubuhi apapun, kira – kira 2 menit setelah
lahir
5. Melakukan
Inisiasi Menyusui Dini (IMD )
6. Memberikan
zalf mata choramphenicol 1 % pada bayi
7. Memberikan
Suntikan Vitamin K 1 mg Intramuskuler, dipaha kiri anterolateral setelah IMD
8. Memberikan
Imunisasi Hepatitis B 0,5 ml intramuskuler, dipaha kanan anterolateral, diberi
kira – kira 1-2 jam setelah pemberian Vitamin K
Dalam melakukan Asuhan Kebidanan
pada bayi baru lahir Ny.”H” di
ruang neonatus RSUD Palembang BARI. pada dasarnya sama dengan teori yang kami
dapatkan di pendidikan yaitu :
1. Menjaga
kehangatan dengan cara memakai pakaian bayi dan ditempatkan dibawah pemanas
2. Membersika
jalan nafas dengan slym zoiger
3. Perawatan
tali pusat dengan menjepit tali pusat menggunakan cord klem dan menbalut tali
pusat dengan kassa steril yang ditetesi betadin.
4. Memberikan
Suntikan Vitamin K 1 mg Intramuskuler, di ⅓ paha luar
5. Memberikan
zalf mata Choramphenicol 1 %
6. Mengidentifikasi
bayi berupa papan nama yang berisikan nama bayi, jenis kelamin, tanggal lahir/
jam lahir, BB, PB, penolong, diagnose, dan gelang nama yang berisikan nama bayi
Ny/Tn.
7. KIE
tentang ASI on demand ( pentingnya ASI esklusif untuk proses tumbuh kembang
bayi ) IMD tidak dilakukan.
8. Rawat
gabung Ibu dan bayi
9. KIE
pada Ibu tentang keadaan bayi
Adapun Asuhan yang tidak dilakukan di
Ruangan Neonatus, yaitu pemberian Imunisasi Hepatitis B (HB 0). Karena di
ruangan Neonatus Imunisasi tidak dilakukan karena tidak tersedianya vaksin
Hepetitis B dan bayi sakit.
Selain itu,
pendokumentasian yang dilakukan pada bayi Ny.”H” sama dengan teori yang kami
dapatkan dipendidikan, meliputi data Subjektif yang meliputi identitas bayi,
identitas orang tua dan riwayat persalinan. Data Objektif yang meliputi
pemeriksaan fisik ( kesadaran, KU, RR, Nadi, Suhu) pemeriksaan obstetric ( kepala, leher, dada, perut, ektremitas,
genetalia dan anus ) pemeriksaan Apgar Score ( frekuensi jantung, usaha nafas,
tonus otot, reflek dan warna kulit ). Analisa data meliputi diagnose, masalah
dan kebutuhan. Perencanaan yang berupa asuhan – asuhan yang diberikan pada bayi
baru lahir. Metode pondokumentasian yaitu SOAP, yang tidak menghilangkan tujuh
langkah varney dalam melakukan pondokumentasian.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
1.1
Kesimpulan
Setelah dilakukan pengkajian asuhan
kebidanan pada bayi baru lahir Ny, “H” didapatkan hasilnya, yaitu :
1. Pada
tanggal 09 Januari 2012 pukul 09.00 wib, diketahui bayi baru lahir pada Ny, “H”
umur 0 hari, jenis kelamin Laki - Laki dengan BB 3000 gram dan PB 48 cm, jenis kelahiran
seksio sesarea.
2. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis, RR 40 x/menit, polse
126x/menit, suhu 36,6 ºC. pemeriksaan obstetric meliputi kepala semetris, caput
(-), cephalohematom (-), perut simetris, dada tidak ada kelainan, ektremitas
tidak ada kelainan, genetalia tadak ada kelainan, anus (+).
3. Dari
hasil pemeriksaan tidak terdapat masalah. Diagnosanya yaitu bayi sehat lahir SC
atas indikasi Letak Lintang.
4. Kebutuhan
bayi baru lahir pada Ny, “H”
a. Menjaga
kehangatan
b. Membersikan
jalan nafas
c. Perawatan
tali pusat
d. Memberikan
suntikan Vitamin K Intramuskuler, di ⅓ paha kiri luar
e. Memberikan
Zalf mata
f. Mengidentifikasi
bayi berupa papan nama dan gelang nama
g. Rawat
gabung
h. KIE
tentang ASI On Demand
i. KIE
pada Ibu tentang keadaan bayi
5. Rencana
asuhan pada bayi baru lahir pada Ny,”H”
a. Menjaga
kehangatan
b. Membersikan
jalan nafas
c. Perawatan
tali pusat
d. Memberikan
suntikan Vitamin K Intramuskuler, di ⅓ paha kiri luar
e. Memberikan
Zalf mata
f. Mengidentifikasi
bayi berupa papan nama dan gelang nama
g. Rawat
gabung
h. KIE
tentang ASI On Demand
i. KIE
pada Ibu tentang keadaan bayi
2. Dalam
pelaksanaan asuhan kebidanan yang dilakukan pada bayi baru lahir Ny, “H”
a. Menjaga
kehangatan bayi dengan memakaikan pakaian bayi dan meletakkan bayi dibawah
pemanas
b. Membersikan
jalan nafas dengan menggunakan slym zoiger
c. Perawatan
tali pusat dengan mengikat tali pusat menggunakan cord klem dan membalut tali
pusat dengan kassa steril yang ditetwesi betadine
d. Memberikan
suntikan Vitamin K intramuskuler, di ⅓ paha kiri luar
e. Member
Zalf mata cholamphenicol 1 % pada kedua mata bayi
f. Mengidentifikasi
bayi berupa papan nama dan gelang nama
g. Melakukan
rawat gabung
h. KIE
tentang ASI On Demand ( ASI ekskulusif )
i. KIE
pada ibu tentang keadaan bayi
3. Evaluasi
dari asuhan yang diberikan, yaitu :
a. Bayi
tampak hangat dengan pakaian dan meletakan bayi dibawah pemanas
b. Jalan
nafas dibersihkan dan tidak terjadi sianosis pada bayi
c. Perawatan
tali pusat telah dilakukan dan tidak ada gejala infeksi pada tali pusat
d. Pemberian
suntikan Vitamin K telah dilakukan
e. Pemberian
Zalf mata cholamphenicol 1 % telah dilakukan
f. Identifikasi
bayi berupa papan nama dan gelang nama telah dilakuakn
g. Rawat
gabung telah dilakukan tanggal 09 Januari 2012 pukul 10.00 WIB
h. Ibu
mengerti tentang ASI On Demand yang dijelaskan oleh bidan
i. Ibu
mengerti KIE tentang keadaan bayi dan ibu tampak tenang
5.2
Saran
5.2.1
Bagi Pihak RSUD Palembang BARI
Penulis
berharap Agar pihak Rumah Sakit selalu memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat dalam pelayanan
kesehatan sehingga RSUD Palembang BARI menjadi Rumah Sakit Terbaik di Kota
Palembang.
5.2.2
Bagi Pendidikan
Diharapkan
pihak pendidikan dapat meningkatkan kompetensi keterampilan dan mempermudah
makalah kepada mahasiswa AKBID Pontren Assanadiyah Palembang selain itu agar
makalah ini dapat berguna proses belajar mengajar.
5.2.3
Bagi Mahasiswa
Dengan
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam pelaksanaan perawatan bayi baru
lahir yang diperoleh selama proses pembelajaran di dalam praktik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar