HAND
OUT
Mata Kuliah :
BIOKIMIA
Kode Mata Kuliah :
BD.204
Semester : II (Dua) / T.A 2008 - 2009
Pertemuan : VIII (Delapan) / Selasa, 21 April 2009
Topik : Imunologi
Sub
Topik : 1. Dasar
Imunologi
2. Sistem Imun Tubuh
Waktu : 120 Menit
Dosen : Karneli, S.P.d., M.Kes
Tujuan : Setelah mengikuti pembelajaran ini,mahasiswa
dapat :
1. Menjelaskan Tentang Darah
2. Menjelaskan Protein Plasma
Sumber Pustaka
: 1. Anna Poedjiadi. 2004. Dasar – Dasar Biokomia.
Universitas Indonesia (UI Press) : Jakarta
2. Poerwo Soedarno. 2003. Ilmu Gizi. Dian Rakyat
: Jakarta
URAIAN MATERI
Dasar
Imunologi
Imunologi :
ilmu yg mempelajari tentang sistem imun / kekebalan tubuh. Pengenalan,
memori, serta kespesifikan terhadap benda asing merupakan inti imunologi.Konsep
dasar Respon Imun : Reaksi terhadap sesuatu yang
asing. Pemicunya disebut denganAntigen, yaitu Substansi
yg mampu merangsang respon imun, berupa bahan infeksiosa biasanya berbentuk
protein atau karbohidrat, atau lemak. Antigen akan berkontak dgn sel
tertentu, memacu serangkaian kejadian yang mengakibatkan destruksi, degradasi
atau eliminasi.
Respon imun :
- Respon imun non spesifik. Terdiri atas : Fagositosis, Reaksi peradangan
- Respon imun spesifik, terdapat 2 komponen :
- Respon imun humoral, berupa globulin-gama tertentu / imunoglobulin. Diperankan limfosit B.
- Respon imun selular, menyebabkan reaksi hipersensitif tipe lambat. Diperankan limfosit T
Imunitas Humoral
- Diperankan limfosit B yang dapat berdeferensiasi menjadi sel plasma
- 80-90 % dalam sumsum tulang, 10-20 % dari limfosit darah tepi.
- Mensintesis imunoglobulin
- Ada 5 imunoglobulin : dari yang terbanyak & peranannya :
- Ig G : aktivasi komplemen,antibodi heterotropik
- Ig A : antibodi sekretorik
- Ig M : aktivasi komplemen
- Ig D : reseptor permukaan limfosit
- Ig E : antibodi reagin, pemusnah parasit.
Antibodi berperan pada 4 tipe
reaksi imun :
Reaksi tipe I : reaksi
anafilaksis.
- Alergen + Ig E + sel Basofil è pelepasan mediator ( histamin, serotonin dll)
- Contoh klinis : urtikaria
Reaksi tipe II
: reaksi sitotoksis
- Antigen + Ig G / Ig M + aktivasi komplemen è lisis dan fagositosis virus, bakteri dll
- Contoh klinis : pemfigoid.
Reaksi tipe
III : reaksi kompleks imun.
- Antigen + Antibodi + Komplemen è
- Tidak mudah dimusnahkan sistem fagosit è bereaksi dgn pembuluh darah atau jaringan lain è kerusakan jaringan.
- Contoh klinis : vaskulitis nekrotikans.
Imunitas Selular
- Diperankan sel T dgn limfokin-nya.
- Sel T 80-90 % jumlah limfosit darah tepi dan 90 % jumlah limfosit timus.
- Limfokin : zat yang dikeluarkan sel T yang mampu merangsang dan mempengaruhi reaksi peradangan selular. Contoh : MIF ( Makrophage Inhibitory Factor), MAF ( Activating), faktor kemotaktik makrofag, dll.
- Antigen spesifik + limfosit T + limfokin è reaksi hipersensitivitas lambat (Reaksi tipe IV ).
- Contoh klinis : Dermatitis Kontak Alergik
Komplemen
adalah kumpulan 9 protein
plasma bukan antibodi yang diperlukan pada reaksi antigen – antibodi sehingga
terjadi kerusakan jaringan atau kematian mikroba serta lisis sel. Fungsi
terpenting : mediator berbagai proses peradangan a.l : vasodilatasi,
pengeluaran cairan, kemotaksis fagosit dll. Jadi aktivasi komplemen
diperlukan untuk dapat terjadinya kerusakan jaringan serta komponen penting
pada reaksi imun tipe II dan tipe III.
Sistem Fagositosis
- Fagosit adalah sel yang mampu memakan benda asing.Terdiri atas : PMN, Monosit dan Makrofag.
- Fagosit akan tertarik ke daerah kerusakan jaringan oleh faktor kemotaksis yang dikeluarkan oleh berbagai jaringan.
Mediator
- substansi kimia yang mempengaruhi dan memacu respons imun dan proses peradangan
- beberapa contoh : prostaglandin, fibrinolisin, faktor kemotaktik, kinin, serotonin, histamin dll
- Histamin : mediator penting selain penyebab vasodilatasi, pengeluaran protein, menimbulkan rasa gatal juga secara langsung memacu respon peradangan.
Ringkasan
- Respon imun terjadi sebagai akibat peristiwa yang menyangkut antigen, limfosit, antibodi, limfokin, mediator kimia & sel efektor untuk melindungi manusia dari bahan-bahan asing yang merugikan serta menyingkirkan jaringan mati atau rusak.
- Tujuan utama respon imun adalah :
- Demi kebaikan manusia, namun kadang-kadang terjadi penyimpangan fungsi karena kelebihan & kekurangan reaksinya.
- Kekurangan : mudah infeksi & ketidakmampuan tubuh menghilangkan bahan berbahaya.
- Kelebihan : proses peradangan yang tidak diperlukan dan memicu penyakit autoimun.
Reaksi Imunologi pada Kulit
Pada kulit, ada beberapa
mekanisme dasar perlindungan dari invasi luar yang membahayakan, antara
lain1:
- Susunan stratum korneum yang sangat rapat.
- Sel Langerhans (turunan dari sumsum tulang) bekerja mirip dengan makrofag (memproses antigen sebelum disajikan ke limfosit / APC).
- Reaksi inflamasi jika sudah menembus ke daerah dermis (daerah dengan pembuluh darah.
Di sel langerhans memiliki
beberapa mediator yang dihasilkan dalam memproses antigen yaitu: sitokin (IL 1
dan IL 6), kemokin (IL8), dan lipid (prostaglandin A2, leukotrien,
dan platelet activating factor1.
Secara umum, jika ada luka pada
kulit dan jaringan penunjang akan memicu reaksi inflamasi. Sebenarnya inflamasi
itu adalah reaksi lokal yang diakibatkan oleh luka sebagai mekanisme pertahanan
tubuh yang dipertahankan oleh kulit. Reaksi inflamasi yang dimulai segera
setelah terlukanya kulit adalah inflamasi akut. Urutan kejadian pada inflamasi
akut yaitu:
Komponen vaskular1
Perubahan ini mencakup pada
ukuran pembuluh darah dan laju aliran darah. Setelah vasokonstriksi singkat
(hitungan detik) untuk mencegah darah dalam jumlah yang lebih banyak, pembuluh
darah ber-vasodilatasi untuk meningkatkan laju aliran darah dimana ada di
dalamnya sel-sel radang. Laju aliran darah yang tinggi ke tempat luka inilah menyebabkan
eritema (kemerahan) dan daerah tersebut akan terasa hangat akibat kalor yang
dibawa oleh darah.
Komponen Eksudatif1
Setelah itu, pembuluh darah
menjadi lebih permeabel mengakibatkan masuknya cairan (plasma darah) ke
ekstravaskuler. Hal ini disebabkan meningkatnya tekanan hidrostatik
intravaskular. Awalnya hanya cairan yang miskin protein keluar ke
ekstravaskuler (transudat), kelamaan cairan kaya protein ikut mengalir ke
ekstravaskular (eksudat). Setelah cairan kaya protein mengalir keluar meninggalkan
pembuluh darah, tekanan osmotik intravaskular akan turun dan menyebabkan air
ber-osmosis dan mengisi rongga ekstravaskular. Penumpukan air inilah yang
menyebabkan edema pada inflamasi akut. Tambahan, pelepasan mediator bradykinin
ke ekstravaskular dan terangsangnya ujung saraf bebas menyebabkan nyeri pada
jaringan tersebut.
Komponen selular1
Selama proses pada komponen
eksudatif berlangsung, sel-sel PMN bersiap untuk keluar juga bertujuan
membersihkan jaringan yang rusak. Karena cairan eksudat sudah banyak yang
keluar dari vaskular, darah bersifat lebih kental (viskositas meningkat) dan
laju aliran darah menurun. Darah lebih terkonsentrasi dengan dilatasi pembuluh
darah (penumpukan eritrosit pada pembuluh darah yang dilatasi). Proses emigrasi
sel PMN ke ekstraseluler ada 4 fase yaitu: marginasi, rolling, adesi, dan
transmigrasi. Sel PMN bergerak dengan panduan dari kemotaksis, sementara itu
mediator kimia dari makrofag berupa TNF dan IL-1. Tiga jenis reseptor
pada sel PMN yang akan bereaksi dengan endotel yaitu: β2 integrin, reseptor
chemokin, dan selektin ligand yang secara berturut-turut akan berikatan dengan
ICAM 1, proteoglikan, dan E-selektin.
Sebelum bantuan dari sel PMN
datang, makrofag telah terlebih dahulu untuk menghancurkan dengan cara memotong
antigen dalam bentuk yang tidak infektif. Setelah sel PMN datang, sel-sel
tersebut bekerja memiliki tugas spesifik yaitu:
- Neutrofil bekerja efektif mem-fagosit agen infektif yang masuk ke dermis kulit.
- Eosinofil bersifat lemah dalam urusan fagosit, tetapi menjadi pertahanan efektif terhadap parasit.
- Sel mast bekerja efektif dalam menghadapi bakteri.
Sistem Imun Tubuh
Defisiensi imun
Defisiensi imun muncul ketika
satu atau lebih komponen sistem imun tidak aktif. Kemampuan sistem imun untuk
merespon patogen berkurang pada baik golongan muda dan golongan tua, dengan
respon imun mulai untuk berkurang pada usia sekitar 50 tahun karena immunosenescence.Di
negara-negara berkembang, obesitas, penggunaan alkohol dan narkoba adalah
akibat paling umum dari fungsi imun yang buruk.[60] Namun,
kekurangan nutrisi adalah akibat paling umum yang menyebabkan defisiensi imun
di negara berkembang.[60] Diet kekurangan cukup protein berhubungan
dengan gangguan imunitas selular, aktivitas komplemen, fungsi fagosit,
konsentrasi antibodi IgA dan produksi sitokin. Defisiensi nutrisi seperti zinc,
selenium, zat besi, tembaga, vitamin A, C, E, dan B6, dan asam folik
(vitamin B9) juga mengurangi respon imun.
Defisiensi imun juga dapat
didapat.Chronic granulomatous disease, penyakit yang
menyebabkan kemampuan fagosit untuk menghancurkan fagosit berkurang, adalah
contoh dari defisiensi imun dapatan. AIDS dan beberapa tipe kanker menyebabkan
defisiensi imun dapatan.
Autoimunitas
Respon imun terlalu aktif
menyebabkan disfungsi imun yang disebut autoimunitas. Sistem imun gagal untuk
memusnahkan dengan tepat antara diri sendiri dan bukan diri sendiri, dan
menyerang bagian dari tubuh. Dibawah keadaan sekitar yang normal, banyak sel T
dan antibodi bereaksi dengan peptid sendiri.[63] Satu fungsi sel
(terletak di thymus dan sumsum tulang) adalah untuk memunculkan limfosit muda
dengan antigen sendiri yang diproduksi pada tubuh dan untuk membunuh sel
tersebut yang dianggap antigen sendiri, mencegah autoimunitas.
Hipersensitivitas
Hipersensitivitas adalah respon
imun yang berlebihan yang dapat merusak jaringan tubuh sendiri. Mereka terbagi
menjadi empat kelas (tipe I – IV) berdasarkan mekanisme yang ikut serta dan
lama waktu reaksi hipersensitif. Tipe I hipersensitivitas sebagai reaksi segera
atau anafilaksis sering berhubungan dengan alergi. Gejala dapat bervariasi dari
ketidaknyamanan sampai kematian. Hipersensitivitas tipe I ditengahi oleh IgE
yang dikeluarkan dari mastosit dan basofil.[64] Hipersensitivitas
tipe II muncul ketika antibodi melilit pada antigen sel pasien, menandai mereka
untuk penghancuran. Hal ini juga disebut hipersensitivitas sitotoksik, dan
ditengahi oleh antibodi IgG dan IgM.[64] Kompleks imun (kesatuan
antigen, protein komplemen dan antibodi IgG dan IgM) ada pada berbagai jaringan
yang menjalankan reaksi hipersensitivitas tipe III.[64]
Hipersensitivitas tipe IV (juga diketahui sebagai selular) biasanya membutuhkan
waktu antara dua dan tiga hari untuk berkembang. Reaksi tipe IV ikut serta
dalam berbagai autoimun dan penyakit infeksi, tetapi juga dalam ikut serta
dalam contact dermatitis. Reaksi tersebut ditengahi oleh
sel T, monosit dan makrofaga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar