Selasa, 11 Desember 2012

HAND OUT BIOKIMIA Q


HAND OUT

Mata Kuliah                :  BIOKIMIA
Kode Mata Kuliah      :  BD.204
Semester                      :  II (Dua) / T.A 2008 - 2009
Pertemuan                   :  VIII (Delapan) / Selasa, 21 April 2009
Topik                           :  Imunologi
Sub Topik                   :  1.  Dasar Imunologi
2.  Sistem Imun Tubuh
Waktu                         :   120 Menit
Dosen                          :  Karneli, S.P.d., M.Kes
Tujuan                         :  Setelah mengikuti pembelajaran ini,mahasiswa dapat :
1.  Menjelaskan Tentang Darah
2.  Menjelaskan Protein Plasma
Sumber Pustaka          :    1. Anna Poedjiadi. 2004. Dasar – Dasar Biokomia.
          Universitas Indonesia (UI Press) : Jakarta
     2.  Poerwo Soedarno. 2003. Ilmu Gizi. Dian Rakyat : Jakarta

URAIAN MATERI
Dasar Imunologi   
Imunologi : ilmu yg mempelajari tentang sistem imun / kekebalan tubuh. Pengenalan, memori, serta kespesifikan terhadap benda asing merupakan inti imunologi.Konsep dasar Respon Imun : Reaksi terhadap sesuatu yang asing. Pemicunya disebut denganAntigen, yaitu Substansi yg mampu merangsang respon imun, berupa bahan infeksiosa biasanya berbentuk protein atau karbohidrat, atau lemak. Antigen akan berkontak dgn sel tertentu, memacu serangkaian kejadian yang mengakibatkan destruksi, degradasi atau eliminasi.
Respon imun :
  1. Respon imun non spesifik. Terdiri atas : Fagositosis, Reaksi peradangan
  2. Respon imun spesifik, terdapat 2 komponen :
    • Respon imun humoral, berupa globulin-gama tertentu / imunoglobulin. Diperankan limfosit B.
    • Respon imun selular, menyebabkan reaksi hipersensitif tipe lambat. Diperankan limfosit T
Imunitas Humoral
  • Diperankan limfosit B yang dapat berdeferensiasi menjadi sel plasma
  • 80-90 % dalam sumsum tulang, 10-20 % dari limfosit darah tepi.
  • Mensintesis imunoglobulin
  • Ada 5 imunoglobulin : dari yang terbanyak & peranannya :

    1. Ig G :  aktivasi komplemen,antibodi heterotropik
    2. Ig A  :  antibodi sekretorik
    3. Ig M :  aktivasi komplemen
    4. Ig D :  reseptor permukaan limfosit
    5. Ig E  : antibodi reagin, pemusnah parasit.
Antibodi berperan pada 4 tipe reaksi imun :
Reaksi tipe I    : reaksi anafilaksis.
  • Alergen + Ig E + sel Basofil  è pelepasan mediator ( histamin, serotonin dll)
  • Contoh klinis : urtikaria
Reaksi tipe II  : reaksi sitotoksis
  • Antigen + Ig G / Ig M  + aktivasi komplemen è lisis dan fagositosis virus, bakteri dll
  • Contoh klinis : pemfigoid.
Reaksi tipe III : reaksi kompleks imun.
  • Antigen + Antibodi + Komplemen è
  • Tidak mudah dimusnahkan sistem fagosit è bereaksi dgn pembuluh darah atau jaringan lain è kerusakan jaringan.
  • Contoh klinis : vaskulitis nekrotikans.
Imunitas Selular
  • Diperankan sel T dgn limfokin-nya.
  • Sel T 80-90 % jumlah limfosit darah tepi dan 90 % jumlah limfosit timus.
  • Limfokin : zat yang dikeluarkan sel T yang mampu merangsang dan mempengaruhi reaksi peradangan selular. Contoh : MIF ( Makrophage Inhibitory Factor), MAF ( Activating), faktor kemotaktik makrofag, dll.
  • Antigen spesifik + limfosit T + limfokin è reaksi hipersensitivitas lambat  (Reaksi tipe IV  ).
  • Contoh klinis : Dermatitis Kontak Alergik
Komplemen
adalah kumpulan 9 protein plasma bukan antibodi yang diperlukan pada reaksi antigen – antibodi sehingga terjadi kerusakan jaringan atau kematian mikroba serta lisis sel. Fungsi terpenting : mediator berbagai proses peradangan a.l : vasodilatasi, pengeluaran cairan, kemotaksis fagosit dll. Jadi aktivasi komplemen diperlukan untuk dapat terjadinya kerusakan jaringan serta komponen penting pada reaksi imun tipe II dan tipe III.
Sistem Fagositosis
  • Fagosit adalah sel yang mampu memakan benda asing.Terdiri atas : PMN, Monosit dan Makrofag.
  • Fagosit akan tertarik ke daerah kerusakan jaringan oleh faktor kemotaksis yang dikeluarkan oleh berbagai jaringan.
Mediator
  • substansi kimia yang mempengaruhi dan memacu respons imun dan proses peradangan
  • beberapa contoh : prostaglandin,  fibrinolisin, faktor kemotaktik, kinin, serotonin, histamin dll
  • Histamin : mediator penting selain penyebab vasodilatasi, pengeluaran protein, menimbulkan rasa gatal juga secara langsung memacu respon peradangan.
Ringkasan
  • Respon imun terjadi sebagai akibat peristiwa yang menyangkut antigen, limfosit, antibodi, limfokin, mediator kimia & sel efektor untuk melindungi manusia dari bahan-bahan asing yang merugikan serta menyingkirkan jaringan mati atau rusak.
  • Tujuan utama respon imun adalah :
  • Demi kebaikan manusia, namun kadang-kadang terjadi penyimpangan fungsi karena kelebihan & kekurangan reaksinya.
    • Kekurangan  : mudah infeksi & ketidakmampuan tubuh menghilangkan bahan berbahaya.
    • Kelebihan   : proses peradangan yang tidak diperlukan  dan memicu penyakit autoimun.

Reaksi Imunologi pada Kulit

Pada kulit, ada beberapa mekanisme dasar perlindungan dari  invasi luar yang membahayakan, antara lain1:
  1. Susunan stratum korneum yang sangat rapat.
  2. Sel Langerhans (turunan dari sumsum tulang) bekerja mirip dengan makrofag (memproses antigen sebelum disajikan ke limfosit / APC).
  3. Reaksi inflamasi jika sudah menembus ke daerah dermis (daerah dengan pembuluh darah.
Di sel langerhans memiliki beberapa mediator yang dihasilkan dalam memproses antigen yaitu: sitokin (IL 1 dan IL 6), kemokin (IL8), dan lipid (prostaglandin A2, leukotrien, dan platelet activating factor1.
Secara umum, jika ada luka pada kulit dan jaringan penunjang akan memicu reaksi inflamasi. Sebenarnya inflamasi itu adalah reaksi lokal yang diakibatkan oleh luka sebagai mekanisme pertahanan tubuh yang dipertahankan oleh kulit. Reaksi inflamasi yang dimulai segera setelah terlukanya kulit adalah inflamasi akut. Urutan kejadian pada inflamasi akut yaitu:
Komponen vaskular1
Perubahan ini mencakup pada ukuran pembuluh darah dan laju aliran darah. Setelah vasokonstriksi singkat (hitungan detik) untuk mencegah darah dalam jumlah yang lebih banyak, pembuluh darah ber-vasodilatasi untuk meningkatkan laju aliran darah dimana ada di dalamnya sel-sel radang. Laju aliran darah yang tinggi ke tempat luka inilah menyebabkan eritema (kemerahan) dan daerah tersebut akan terasa hangat akibat kalor yang dibawa oleh darah.
Komponen Eksudatif1
Setelah itu, pembuluh darah menjadi lebih permeabel mengakibatkan masuknya cairan (plasma darah) ke ekstravaskuler. Hal ini disebabkan meningkatnya tekanan hidrostatik intravaskular. Awalnya hanya cairan yang miskin protein keluar ke ekstravaskuler (transudat), kelamaan cairan kaya protein ikut mengalir ke ekstravaskular (eksudat). Setelah cairan kaya protein mengalir keluar meninggalkan pembuluh darah, tekanan osmotik intravaskular akan turun dan menyebabkan air ber-osmosis dan mengisi rongga ekstravaskular. Penumpukan air inilah yang menyebabkan edema pada inflamasi akut. Tambahan, pelepasan mediator bradykinin ke ekstravaskular dan terangsangnya ujung saraf bebas menyebabkan nyeri pada jaringan tersebut.
Komponen selular1
Selama proses pada komponen eksudatif berlangsung, sel-sel PMN bersiap untuk keluar juga bertujuan membersihkan jaringan yang rusak. Karena cairan eksudat sudah banyak yang keluar dari vaskular, darah bersifat lebih kental (viskositas meningkat) dan laju aliran darah menurun. Darah lebih terkonsentrasi dengan dilatasi pembuluh darah (penumpukan eritrosit pada pembuluh darah yang dilatasi). Proses emigrasi sel PMN ke ekstraseluler ada 4 fase yaitu: marginasi, rolling, adesi, dan transmigrasi. Sel PMN bergerak dengan panduan dari kemotaksis, sementara itu mediator kimia dari makrofag  berupa TNF dan IL-1. Tiga jenis reseptor pada sel PMN yang akan bereaksi dengan endotel yaitu: β2 integrin, reseptor chemokin, dan selektin ligand yang secara berturut-turut akan berikatan dengan ICAM 1, proteoglikan, dan E-selektin.
Sebelum bantuan dari sel PMN datang, makrofag telah terlebih dahulu untuk menghancurkan dengan cara memotong antigen dalam bentuk yang tidak infektif. Setelah sel PMN datang, sel-sel tersebut bekerja memiliki tugas spesifik yaitu:
  1. Neutrofil bekerja efektif mem-fagosit agen infektif yang masuk ke dermis kulit.
  2. Eosinofil bersifat lemah dalam urusan fagosit, tetapi menjadi pertahanan efektif terhadap parasit.
  3. Sel mast bekerja efektif dalam menghadapi bakteri.



Sistem Imun Tubuh

Defisiensi imun

Defisiensi imun muncul ketika satu atau lebih komponen sistem imun tidak aktif. Kemampuan sistem imun untuk merespon patogen berkurang pada baik golongan muda dan golongan tua, dengan respon imun mulai untuk berkurang pada usia sekitar 50 tahun karena immunosenescence.Di negara-negara berkembang, obesitas, penggunaan alkohol dan narkoba adalah akibat paling umum dari fungsi imun yang buruk.[60] Namun, kekurangan nutrisi adalah akibat paling umum yang menyebabkan defisiensi imun di negara berkembang.[60] Diet kekurangan cukup protein berhubungan dengan gangguan imunitas selular, aktivitas komplemen, fungsi fagosit, konsentrasi antibodi IgA dan produksi sitokin. Defisiensi nutrisi seperti zinc, selenium, zat besi, tembaga, vitamin A, C, E, dan B6, dan asam folik (vitamin B9) juga mengurangi respon imun.
Defisiensi imun juga dapat didapat.Chronic granulomatous disease, penyakit yang menyebabkan kemampuan fagosit untuk menghancurkan fagosit berkurang, adalah contoh dari defisiensi imun dapatan. AIDS dan beberapa tipe kanker menyebabkan defisiensi imun dapatan.

Autoimunitas

Respon imun terlalu aktif menyebabkan disfungsi imun yang disebut autoimunitas. Sistem imun gagal untuk memusnahkan dengan tepat antara diri sendiri dan bukan diri sendiri, dan menyerang bagian dari tubuh. Dibawah keadaan sekitar yang normal, banyak sel T dan antibodi bereaksi dengan peptid sendiri.[63] Satu fungsi sel (terletak di thymus dan sumsum tulang) adalah untuk memunculkan limfosit muda dengan antigen sendiri yang diproduksi pada tubuh dan untuk membunuh sel tersebut yang dianggap antigen sendiri, mencegah autoimunitas.

Hipersensitivitas

Hipersensitivitas adalah respon imun yang berlebihan yang dapat merusak jaringan tubuh sendiri. Mereka terbagi menjadi empat kelas (tipe I – IV) berdasarkan mekanisme yang ikut serta dan lama waktu reaksi hipersensitif. Tipe I hipersensitivitas sebagai reaksi segera atau anafilaksis sering berhubungan dengan alergi. Gejala dapat bervariasi dari ketidaknyamanan sampai kematian. Hipersensitivitas tipe I ditengahi oleh IgE yang dikeluarkan dari mastosit dan basofil.[64] Hipersensitivitas tipe II muncul ketika antibodi melilit pada antigen sel pasien, menandai mereka untuk penghancuran. Hal ini juga disebut hipersensitivitas sitotoksik, dan ditengahi oleh antibodi IgG dan IgM.[64] Kompleks imun (kesatuan antigen, protein komplemen dan antibodi IgG dan IgM) ada pada berbagai jaringan yang menjalankan reaksi hipersensitivitas tipe III.[64] Hipersensitivitas tipe IV (juga diketahui sebagai selular) biasanya membutuhkan waktu antara dua dan tiga hari untuk berkembang. Reaksi tipe IV ikut serta dalam berbagai autoimun dan penyakit infeksi, tetapi juga dalam ikut serta dalam contact dermatitis. Reaksi tersebut ditengahi oleh sel T, monosit dan makrofaga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar